Sabtu, 16 Maret 2013

Kisah Joko Tarup Dan 7 Bidadari

Alur Cerita
Suatu hari Jaka Tarub berangkat berburu di kawasan Gunung Keramat. Di gunung itu terdapat sebuah telaga tempat tujuh bidadari mandi.
Jaka Tarub mengambil selendang salah satu bidadari. Ketika 7 bidadari selesai mandi, enam dari tujuh bidadari tersebut kembali ke kahyangan. Sisanya yang satu orang bingung mencari selendangnya, karena tanpa itu ia tidak mampu terbang.
Jaka Tarub muncul datang menolong. Bidadari yang bernama Dewi Nawangwulan itu bersedia ikut pulang ke rumahnya. Keduanya akhirnya menikah dan mendapatkan seorang putri bernama Dewi Nawangsih.
Selama hidup berumah tangga, Nawangwulan selalu memakai kesaktiannya. Sebutir beras bisa dimasaknya menjadi sebakul nasi. Suatu hari Jaka Tarub melanggar larangan Nawangwulan supaya tidak membuka tutup penanak nasi. Akibatnya kesaktian Nawangwulan hilang. Sejak itu ia menanak nasi seperti umumnya wanita biasa.
Maka, persediaan beras menjadi cepat habis. Ketika beras tinggal sedikit, Nawangwulan menemukan selendang pusakanya tersembunyi di dalam lumbung. Nawangwulan pun marah mengetahui kalau suaminya yang telah mencuri benda tersebut.
Jaka Tarub memohon istrinya untuk tidak kembali ke kahyangan. Namun tekad Nawangwulan sudah bulat. Hanya demi bayi Nawangsih ia rela turun ke bumi untuk menyusui saja.
Pernikahan Nawangsih
Jaka Tarub kemudian menjadi pemuka desa bergelar Ki Ageng Tarub, dan bersahabat dengan Brawijaya raja Majapahit. Pada suatu hari Brawijaya mengirimkan keris pusaka Kyai Mahesa Nular supaya dirawat oleh Ki Ageng Tarub.
Utusan Brawijaya yang menyampaikan keris tersebut bernama Ki Buyut Masahar dan Bondan Kejawan, anak angkatnya. Ki Ageng Tarub mengetahui kalau Bondan Kejawan sebenarnya putra kandung Brawijaya. Maka, pemuda itu pun diminta agar tinggal bersama di desa Tarub.
Sejak saat itu Bondan Kejawan menjadi anak angkat Ki Ageng Tarub, dan diganti namanya menjadi Lembu Peteng. Ketika Nawangsih tumbuh dewasa, keduanya pun dinikahkan.
Setelah Jaka Tarub meninggal dunia, Lembu Peteng alias Bondan Kejawan menggantikannya sebagai Ki Ageng Tarub yang baru. Nawangsih sendiri melahirkan seorang putra, yang setelah dewasa bernama Ki Getas Pandawa.
Ki Ageng Getas Pandawa kemudian memiliki putra bergelar Ki Ageng Sela, yang merupakan kakek buyut Panembahan Senapati, pendiri Kesultanan Mataram.

Analisis Kisah Jaka Tarub
Babad Tanah Jawi adalah naskah sejarah Kesultanan Mataram. Pemberitaan tentang Panembahan Senapati dan para penggantinya memang mendekati fakta sejarah. Akan tetapi kisah-kisah sebelum Panembahan Senapati cenderung bersifat khayal, terutama seputar Kerajaan Majapahit.
Ada yang berpendapat, Kesultanan Mataram didirikan oleh keluarga petani, bukan keluarga bangsawan. Oleh karena itu, demi mendapat legitimasi dan pengakuan dari rakyat Jawa, diciptakanlah tokoh-tokoh mitos yang serba istimewa sebagai leluhur raja-raja Mataram.
Dalam hal ini, tokoh Nawangsih yang dinikahi Bondan Kejawan disebut sebagai wanita istimewa. Nawangsih merupakan anak campuran antara manusia dan bidadari. Kisah ini mengingatkan pada tokoh Ken Arok dalam Pararaton. Pihak Majapahit juga ingin menunjukkan bahwa leluhur mereka, yaitu Ken Arok adalah manusia istimewa setengah dewa.

JAKA TARUB
Adegan 1
Dahulu kala dipinggir sebuah desa, hiduplah seorang yang bernama Nyi Randa Tarub, Ia tinggal bersama anaknya yang bernama Jaka Tarub yang suka berburu di hutan.
Jaka tarub: Bu, saya saya ingin berburu di hutan
Nyi Tarub: baiklah anakku, hati hati
Adegan 2
Ditengah hutan, disebuah telaa ada tujuh bidadari sedang asyik mandi, Jaka Tarub berbunyi disemak – semak memperhatikan gadis – gadis itu.
Bidadari 1 : adik – adik kita mandi dsisini saja ya
Bidadari 2: ya kak
Bidadari 3: ya kak, udaranya juga sejuk
Bidadari 4: ih ….. kakak
Bidadari 5: nih….
Bidadari 6: sudah kita mandi saja
Bidadri 7: iya kak

Jaka Tarub : semua gadis – gadis ini cantik. Apakah mungkin mereka bidadari, hah …. Apa itu? Aku harus memiliki sari dari mereka.
Bidadari 1: adik – adik hari sudah gelap mari kita kembali ke khayangan
Dewi : selendangku ……? Ya tuhan selendangku hilang.
Bidadari 1 : hilang
Bidadari2 : bagaimana mungkin?
Bidadari 4: ayo kita cari!
Bidadari 3: oh…. Hari sudah gelap, kita harus pergi dari sini
Dewi : tapi bagaimana mungkin?
Bidadari 5: kami tidak bisa berbuat apapun, adik … terpaksa kau kami tinggalkan
Dewi : tidak kak tunggu aku
Jaka Tarub : hai … gadis, apa yang terjadi padamu?
Dewi : tuan tolong aku, aku bidadari dari khayangan selendangku hilang, saudaraku meninggalkanku. Aku tak punya siapa – saipa.
Jaka tarub: oh, sungguh malang nasibmu. Aku bermaksud menolongmu, apa kau mau ikut pulang dengan denganku?
Dewi : terimakasih, namaku Nawang Wulan, siapa namamu?
Jaka tarub : orang memanggilku Jaka Tarub
Akhirnya Dewi Nawang Mulan mengikuti Jaka tarub, nawang wulan tidak tahu kalau ternyata jaka tarublah yang mengambil selendangnya.
Sesampainya dirumah ibunyapun kaget melihat Jaka tarub membawa seorang wanita.
Jaka tarub : BU Jaka Pulang
Nyi Tarub : ya Alloh jaka kemana saja kau ini, dan siapa dia?
Jaka Tarub : tenanglah bu, ini nawang wulan aku menemukanya seorang diri di Hutan, bolehkah dia tinggal disini seorang diri dihutan, bolehkah dia tinggal disini.
Nyi Tarub: baiklah, mari seilahkan masuk di gubukku ini
Jaka Tarub : sebaiknya selendang ini kutaruh disini

Hari – hari berlalu, akhirnya Jaka Tarub memperistri Dewi Nawang Wulan, namun kebahagian mereka terganggu karena tidak lama setelah mereka menikah Nyi tarub meninggal .
Tetapi pada suatu hari terjadi peristiwa yang merupakan awal malapetaka.
Dewi : kakang jaka, aku sedang menanak nasi tolong kau jaga dan jangan kau buka kukusan itu.
Jaka Tarub : baiklah akan kujaga
Jaka Tarub : hah….!!!, hanya setangkai padi pantas padi yang ditanaknya panats bsaja padi dilumbungku tak pernah habis.
Dewi : kakang kau telah membuka kukusan ini. Sekarang aku tidak bisa menanak nasi hanya dari setangkai padi . aku harus menumbuk padi.
Jaka tarub : maafkan aku isteriku, apa kukusan itu tidak bisa diperbaiki lagi?
Dewi : tidak bisa kakang
Jaka Tarub : maafkan aku isteriku, maafkan aku
Sejak saat itu dewi nawang wulan harus menumbuk padi, tentu saja padi dilumbungnya cepat habis
Dan pada seuatu hari saat Dewi nawang mengambil padi lumbungnya ia menemukan sesuatu.
Dewi : oh selendangku, apa kakang jaka yang mengambilnya? Tapi kenapa ia pura – pura tidak tahu?

Dewi : kakang jaka… aku mohon pamit ke khayangan
Jaka Tarub : dewi tunggu dulu memang aku salah….!
Aku mohon maaf
Dewi : kau telah menipuku selama ini kakang, apa kakang mengira akan dapat berbuat sedemikian lamanya?
Jaka tarub : aku mohon isteriku, tetaplah disini!!
Dewi: tidak kakang, aku akan tetap pergi, kehidupan dibumi tidak cocok unutkku.
Jaka tarub : oh nawang wulan, apap ini tidak bisa dibiarakan baik – baik?
Dewi : tidak kakang … kodratku adalah sebagai bidadari dan aku harus kembali ke khayangan
Dengan hati teriris jaka tarub menyaksikan isterinya terbang. Demikianlah kisah jaka Tarub dan Dewi Nawang Wulan.

2 komentar:

  1. cerita ini sangat menarik dan ini adalah sebuat referensi untuk studi akhir,

    BalasHapus
  2. cerita ini hampir mirip dengan cerita dongeng 7 putri di maluku utara, "jafar noh" yang meliputi di empat kerajaan/kesultanan di maluku kie raha.

    BalasHapus